Minggu, 23 Oktober 2016

Sweet Moment

Sweet Moment
By Anggraini Perihastuti

Hai, namaku Nina. Aku mahasiswa semester lima. Aku menyukai seseorang. Dia sekelas denganku. Tapi sayangnya dia menyukai gadis lain. Gadis yang juga teman dekatku. Tak bisa ku pungkiri dia gadis yang cantik, kalem, dan murah senyum. Bahkan menurutku dia memang sangat loveable. Jadi apa boleh buat, aku harus mengubur perasaanku ini sendiri.
Laki-laki itu bernama Rian. Dia orang yang polos tapi juga konyol. Dia selalu gagal untuk membuat joke dan akhirnya dia jadi bahan bully-an teman-teman sekelas. Walaupun begitu tetapi selera musiknya bagus juga. Dia menyukai lagu-lagu rock. Dari mulai rock balada, rock alternative sampai hardrock. Dia menyukainya. Dia pintar memainkan gitar, dia bisa bernyanyi, dan dia juga tergabung dalam sebuah band. Dan senangnya aku, karena dia pernah meminta ku untuk ikut latihan dengannya. Tapi aku tak pernah melakukannya karena keadaan yang tak memungkinkan.
Tadinya kami tergabung dalam pertemanan massal yang beranggotakan sepuluh orang. Diantaranya tiga laki-laki dan tujuh perempuan. Tentu saja Lili, gadis yang disukai Rian juga termasuk dalam gerombolan kami. Saat itu kami baru semester 1, kami sering menghabiskan waktu menunggu jam kuliah bersama. Makan bersama, mengerjakan tugas bersama bahkan mendengarkan lagu bersama-sama.
Ketika kami memasuki semester  ke dua, Rian menyatakan persaannya pada Lili. Aku pun tak langsung mengetahui hal itu. Aku baru mengetahuinya Dua hari kemudian. Tapi aku dengar bahwa Lili tak mengindahkannya. Alasannya Lili belum berani untuk berpacaran. Saat itu aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa selain berpura-pura mendukung hubungan mereka berdua. Mau bagaimana lagi, aku masih belum yakin tentang persaanku pada Rian, lagipula Lili adalah gadis yang sempurna untuk Rian. Mengetahui bahwa Lili tidak membalas perasaan Rian, aku merasa sedikit kasihan pada Rian. Sejak saat itu Rian menjadi jarang berkumpul bersama kami lagi. Dan teman kami yang satunya lagi juga menjadi sangat-sangat sibuk sehingga dia juga sering absen dari acara-acara kami. Alhasil gerombolan kami hanya tersisa delapan orang saja.
Hari demi hari telah berlalu, namun perasaanku untuk peduli pada Rian tak pernah berkurang sedikitpun. Setiap kali dia membutuhkan bantuanku untuk mengerjakan tugas maupun belajar untuk persiapan ujian, aku selalu ada untuknya. Tapi yang kulihat, perasaanya untuk Lili pun juga tak berkurang sedikitpun. Dia selalu saja mengagumi Lili. Dan aku pun tak berharap banyak, bahkan jika dibandingkan dengan Lili, aku bagaikan serpihan roti yang tak ternilai. Sehingga sampai kapan pun aku akan menyimpan perasaan ku ini hanya untukku saja.
Suatu saat kami berencana untuk menonton film bersama di bioskop di salah satu mall yang cukup terkenal. Aku senang karena memang sudah lama rasanya kita tidak pergi bersama untuk melepas penat dari segala tugas-tugas kuliah. Lebih senangnya lagi kami pergi tak hanya ber delapan tetapi juga dengan beberapa teman sekelasku yang lain, dan itu termasuk  Rian. Tapi walaupun begitu, namun aku tak berharap banyak darinya. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tetap bersifat netral. Aku memperingatkan diriku sendiri agar tak memperlihatkan persaanku padanya dengan cara apapun apalagi kali ini banyak teman-teman disekitar kami.  Cukup melihatnya saja aku sudah cukup tenang.
Salah satu temanku memberitahukanku bahwa untuk acara kali ini kita langsung bertemu di tempat tujuan saja. Dengan segera akau berangkat dengan naik motor kesayanganku. Sesampainya aku langsung menuju restoran cepat saji tempat yang kami sepakati sebagai temapat untuk berkumpul. Saat aku memasuki restoran cepat saji itu Aku langsung melihat sekitar. Tapi aku tak menemukan sosok seorang yang Aku kenal disana. Aku panik, kupikir mereka meninggalkanku begitu saja, lalu aku mengecek handphone ku untuk mengetahui ada pemberitahuan dari temanku atau tidak. Saat aku baru mau mengambil handphone ku dari tas ku, tiba-tiba ada yang memanggilku. Aku pun menengok, dan ternyata Rian yang memanggilku. Aku lega, akhirnya aku tidak sendirian lagi. Dengan cepat aku langsung menjawab panggilannya dengan senyuman.
“Nin, kamu udah lama disini?”, tanyanya
“ Eh nggak, barusan kok”
“ Oh.. yaudah kita nunggu sambil duduk aja yuk”
“Yaudah”, jawabku singkat. Kami berdua pun menuju tempat duduk yang kosong.
“Eh, emangnya ga papa ya kalo kita duduk tapi ga beli apa-apa disini?”
“ He.. ga tau juga ding. Kalo gitu kita beli es krim aja yuk.”
“eh, tapi...” belum selesai aku bicara, Rian sudah pergi untuk membeli es krim. Dalam benakku, aku merasa senang tapi disisi lain aku juga bingung dengan keberadaan teman-temanku yang lain. Apa mereka benar-benar belom datang? Apa jangan-jangan mereka kenap-napa di jalan? Langsung saja aku mengirim pesan pada salah satu temanku untuk mengetahui jawabannya. Lama tak dibalas, aku menjadi semakin khawatir. Dan Rian pun kembali dengan dua cup es krim ditangannya.
“Nih es krimnya, ada dua rasa kamu pilih yang mana?” tanyanya santai
“Aku yang ini aja” jawabku memilih rasa moka. Aku masih mengkhawatirkan teman-temanku. Berkali-kali aku melihat handphone berharap ada yang membalas pesanku.
“Kamu liatin hp terus, kenapa?” tanyanya
“Aku sms si Ruby tapi kok nggak di bales-bales, si Devi juga aku sms pada ga bales semua. Aneh!”
“Mungkin mereka masih perjalanan kali, di telpon aja gih.”
Tiba-tiba handphone ku bergetar tanda ada pesan masuk. Pesan dari temanku mengatakan bahwa mereka sedang antri di pom bensin, dan katanya mereka akan terlambat datang.
“Udah dibales?”
“Udah, katanya mereka telat lagi antri di pom soalnya.”
“Oh gitu.”
Dalam hati rasanya senang banget, karena Aku jadi punya lebih banyak waktu untuk berdua dengan Rian. Langsung saja aku menikmati es krim moka yang rasanya berkali-kali lebih nikmat dari biasanya, karena kali ini es krimnnya kan dibelikan Rian.
“Nin, tau nggak?”
“Enggak” jawabku dengan sedikit meledek.
“Isshh.. kamu nih” sanggahnya. Lalu aku pun tertawa kecil.
“Nin, aku tuh sekarang udah ga suka sama Lili.”
“Hah?? Yakin??”
“Yakinlah”
“Ya bagus deh kalo gitu” jawabku. Lega rasanya melihat Dia yang sudah bisa keluar dari bayang-bayang Lili. Aku pun tersenyum kecil menyambut keberhasilannya itu. “Terus?” tanyaku ringan.
“Aku suka sama cewek lain.” Aku terkejut. Bagaimana ini bisa terjadi? Baru saja Lili
“oh.. siapa?”
“ Rahasia lah”
“ Wuu.. udah terlanjur cerita, diselesein dong, jadi penasaran nih..”
“Kamu kan emang orangnya kepo.”
“Biarin, kaish tau clue nya dong..”
“Tebak aja deh”
“emm.. temen SMA mu ya?”. Dia menggeleng.
“Temen SMP?”. Dia menggeleng lagi.
“cewek??”.
“Ya iyalah..” jawabnya sedikit kesal.
“Temen kampus?”
“Iya”
“Siapa sih???”
“Tebak aja pokoknya”
Karena kau tak kuasa memikirkan perempuan lain lagi yang dia suka maka aku menyerah. Aku tak ingin tau siapa perempuan yang dia maksut, karena siapapun dia pasti aku mengenalnya, dan itu akan menambah sesak dada ini.
“Siapa yan?” tanyaku dengan sekuat hati
“Ok, aku kasih tau ciri-cirinya ya.. Dia itu baik banget pokoknya. Dia peduli banget sama aku. Dia tulus banget sama aku. Dia bukan cewek paling cantik tapi Dia sangat menarik buatku. Dia bahkan ga Cuma baik sama aku tapi juga sama semua orang. Temen deket, ga deket, cowok/cewek. Dan aku sekarang menyadari bahwa Dia sangat penting buatku.”
“Kamu tuh Cuma nyebutin apa yang kamu rasain bukan ciri-ciri orang nya yan. Tauk ah.”
“Kamu masih belum tau siapa orangnya?”
“belom”
“Cewek itu... kamu...” dengan tatapan malu dia memandangku. Tapi aku tak segampang itu percaya dengan apa yang diucapkannya. Mungkin dia Cuma mau mengerjai aku. Lalu aku pun tertawa.
“Kok kamu ketawa sih?” ucapnya dengan wajah yang kesal.
“ Kamu itu jangan suka ngerjain orang, aku tau kok kamu cuman mau ngerjain aku.. iya kan?”
“apa? Ngerjain kamu?”
“ Iya kan, udah deh ngaku aja, siapa aja yang udah kamu kerjain  kayak gini?”
“Hey, aku serius Nin.”, lau dia pun memegang tanganku. Dengan tatapan matanya yang begitu indah. Dia meyakinkan ku bahwa yang diucapkannya adalah bersal dari hati. Dan bukan bercanda.
“Nin, aku serius. Aku suka sama kamu. Aku nggak ngerjain kamu. Aku dah jujur sama kamu. Apa kamu ga denger ciri-ciri yang udah aku bilang. Itu semua tentang kamu.Kamu penting buat aku.” Katanya pelan-pelan penuh perasaan.
Tak tahu kenapa air mataku mengalir begitu saja. Aku tak percaya ini semua terjadi. Hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku masih terdian memandangnya.
“Kok kamu nangis sih, udah jangan nagis dong”. Iapun mengusap pipiku dan menghapus air mataku.
“Ok sekarang aku mau kamu jawab pertanyaanku, boleh nggak aku jadi seseorang yang selalu deket sama kamu, kapan pun dan diman pun?”
Dengan sedikit senyuman aku pun menjawab, “ boleh”
“Makasih, Nin, I love you”
“Love you too”
“Cieeeeee...” tiba-tiba tementemenku datang. Aku bingung, bagaimana bisa mereka datang pada saat yang sangat kebetulan.
“Nina, tau nggak kita tuh sebenernya udah pada nyampek dari tadi, cuman kita emang ngebiarin kamu berdua sama Rian.”
“Aaa.. kalian ternyata sekongkol ya?”
“Iya, ini semua rencana nya kita biar kamu sama Rian bisa berduaan.”
“Makasih ya gaess.., Love you all”

“Selamet yah..”