Sweet
Moment
By Anggraini Perihastuti
Hai,
namaku Nina. Aku mahasiswa semester lima. Aku menyukai seseorang. Dia sekelas
denganku. Tapi sayangnya dia menyukai gadis lain. Gadis yang juga teman
dekatku. Tak bisa ku pungkiri dia gadis yang cantik, kalem, dan murah senyum.
Bahkan menurutku dia memang sangat loveable. Jadi apa boleh buat, aku harus
mengubur perasaanku ini sendiri.
Laki-laki
itu bernama Rian. Dia orang yang polos tapi juga konyol. Dia selalu gagal untuk
membuat joke dan akhirnya dia jadi bahan bully-an teman-teman sekelas. Walaupun
begitu tetapi selera musiknya bagus juga. Dia menyukai lagu-lagu rock. Dari
mulai rock balada, rock alternative sampai hardrock. Dia menyukainya. Dia
pintar memainkan gitar, dia bisa bernyanyi, dan dia juga tergabung dalam sebuah
band. Dan senangnya aku, karena dia pernah meminta ku untuk ikut latihan
dengannya. Tapi aku tak pernah melakukannya karena keadaan yang tak
memungkinkan.
Tadinya
kami tergabung dalam pertemanan massal yang beranggotakan sepuluh orang.
Diantaranya tiga laki-laki dan tujuh perempuan. Tentu saja Lili, gadis yang
disukai Rian juga termasuk dalam gerombolan kami. Saat itu kami baru semester
1, kami sering menghabiskan waktu menunggu jam kuliah bersama. Makan bersama,
mengerjakan tugas bersama bahkan mendengarkan lagu bersama-sama.
Ketika
kami memasuki semester ke dua, Rian
menyatakan persaannya pada Lili. Aku pun tak langsung mengetahui hal itu. Aku
baru mengetahuinya Dua hari kemudian. Tapi aku dengar bahwa Lili tak mengindahkannya.
Alasannya Lili belum berani untuk berpacaran. Saat itu aku benar-benar tak bisa
berbuat apa-apa selain berpura-pura mendukung hubungan mereka berdua. Mau
bagaimana lagi, aku masih belum yakin tentang persaanku pada Rian, lagipula
Lili adalah gadis yang sempurna untuk Rian. Mengetahui bahwa Lili tidak
membalas perasaan Rian, aku merasa sedikit kasihan pada Rian. Sejak saat itu
Rian menjadi jarang berkumpul bersama kami lagi. Dan teman kami yang satunya
lagi juga menjadi sangat-sangat sibuk sehingga dia juga sering absen dari acara-acara
kami. Alhasil gerombolan kami hanya tersisa delapan orang saja.
Hari
demi hari telah berlalu, namun perasaanku untuk peduli pada Rian tak pernah
berkurang sedikitpun. Setiap kali dia membutuhkan bantuanku untuk mengerjakan
tugas maupun belajar untuk persiapan ujian, aku selalu ada untuknya. Tapi yang
kulihat, perasaanya untuk Lili pun juga tak berkurang sedikitpun. Dia selalu
saja mengagumi Lili. Dan aku pun tak berharap banyak, bahkan jika dibandingkan
dengan Lili, aku bagaikan serpihan roti yang tak ternilai. Sehingga sampai
kapan pun aku akan menyimpan perasaan ku ini hanya untukku saja.
Suatu
saat kami berencana untuk menonton film bersama di bioskop di salah satu mall
yang cukup terkenal. Aku senang karena memang sudah lama rasanya kita tidak
pergi bersama untuk melepas penat dari segala tugas-tugas kuliah. Lebih senangnya
lagi kami pergi tak hanya ber delapan tetapi juga dengan beberapa teman
sekelasku yang lain, dan itu termasuk Rian. Tapi walaupun begitu, namun aku tak
berharap banyak darinya. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tetap bersifat
netral. Aku memperingatkan diriku sendiri agar tak memperlihatkan persaanku
padanya dengan cara apapun apalagi kali ini banyak teman-teman disekitar
kami. Cukup melihatnya saja aku sudah
cukup tenang.
Salah
satu temanku memberitahukanku bahwa untuk acara kali ini kita langsung bertemu
di tempat tujuan saja. Dengan segera akau berangkat dengan naik motor
kesayanganku. Sesampainya aku langsung menuju restoran cepat saji tempat yang
kami sepakati sebagai temapat untuk berkumpul. Saat aku memasuki restoran cepat
saji itu Aku langsung melihat sekitar. Tapi aku tak menemukan sosok seorang
yang Aku kenal disana. Aku panik, kupikir mereka meninggalkanku begitu saja,
lalu aku mengecek handphone ku untuk mengetahui ada pemberitahuan dari temanku
atau tidak. Saat aku baru mau mengambil handphone ku dari tas ku, tiba-tiba ada
yang memanggilku. Aku pun menengok, dan ternyata Rian yang memanggilku. Aku
lega, akhirnya aku tidak sendirian lagi. Dengan cepat aku langsung menjawab
panggilannya dengan senyuman.
“Nin,
kamu udah lama disini?”, tanyanya
“
Eh nggak, barusan kok”
“
Oh.. yaudah kita nunggu sambil duduk aja yuk”
“Yaudah”,
jawabku singkat. Kami berdua pun menuju tempat duduk yang kosong.
“Eh,
emangnya ga papa ya kalo kita duduk tapi ga beli apa-apa disini?”
“
He.. ga tau juga ding. Kalo gitu kita beli es krim aja yuk.”
“eh,
tapi...” belum selesai aku bicara, Rian sudah pergi untuk membeli es krim.
Dalam benakku, aku merasa senang tapi disisi lain aku juga bingung dengan
keberadaan teman-temanku yang lain. Apa mereka benar-benar belom datang? Apa
jangan-jangan mereka kenap-napa di jalan? Langsung saja aku mengirim pesan pada
salah satu temanku untuk mengetahui jawabannya. Lama tak dibalas, aku menjadi
semakin khawatir. Dan Rian pun kembali dengan dua cup es krim ditangannya.
“Nih
es krimnya, ada dua rasa kamu pilih yang mana?” tanyanya santai
“Aku
yang ini aja” jawabku memilih rasa moka. Aku masih mengkhawatirkan
teman-temanku. Berkali-kali aku melihat handphone berharap ada yang membalas
pesanku.
“Kamu
liatin hp terus, kenapa?” tanyanya
“Aku
sms si Ruby tapi kok nggak di bales-bales, si Devi juga aku sms pada ga bales
semua. Aneh!”
“Mungkin
mereka masih perjalanan kali, di telpon aja gih.”
Tiba-tiba
handphone ku bergetar tanda ada pesan masuk. Pesan dari temanku mengatakan
bahwa mereka sedang antri di pom bensin, dan katanya mereka akan terlambat datang.
“Udah
dibales?”
“Udah,
katanya mereka telat lagi antri di pom soalnya.”
“Oh
gitu.”
Dalam
hati rasanya senang banget, karena Aku jadi punya lebih banyak waktu untuk
berdua dengan Rian. Langsung saja aku menikmati es krim moka yang rasanya
berkali-kali lebih nikmat dari biasanya, karena kali ini es krimnnya kan
dibelikan Rian.
“Nin,
tau nggak?”
“Enggak”
jawabku dengan sedikit meledek.
“Isshh..
kamu nih” sanggahnya. Lalu aku pun tertawa kecil.
“Nin,
aku tuh sekarang udah ga suka sama Lili.”
“Hah??
Yakin??”
“Yakinlah”
“Ya
bagus deh kalo gitu” jawabku. Lega rasanya melihat Dia yang sudah bisa keluar
dari bayang-bayang Lili. Aku pun tersenyum kecil menyambut keberhasilannya itu.
“Terus?” tanyaku ringan.
“Aku
suka sama cewek lain.” Aku terkejut. Bagaimana ini bisa terjadi? Baru saja Lili
“oh..
siapa?”
“
Rahasia lah”
“
Wuu.. udah terlanjur cerita, diselesein dong, jadi penasaran nih..”
“Kamu
kan emang orangnya kepo.”
“Biarin,
kaish tau clue nya dong..”
“Tebak
aja deh”
“emm..
temen SMA mu ya?”. Dia menggeleng.
“Temen
SMP?”. Dia menggeleng lagi.
“cewek??”.
“Ya
iyalah..” jawabnya sedikit kesal.
“Temen
kampus?”
“Iya”
“Siapa
sih???”
“Tebak
aja pokoknya”
Karena
kau tak kuasa memikirkan perempuan lain lagi yang dia suka maka aku menyerah.
Aku tak ingin tau siapa perempuan yang dia maksut, karena siapapun dia pasti
aku mengenalnya, dan itu akan menambah sesak dada ini.
“Siapa
yan?” tanyaku dengan sekuat hati
“Ok,
aku kasih tau ciri-cirinya ya.. Dia itu baik banget pokoknya. Dia peduli banget
sama aku. Dia tulus banget sama aku. Dia bukan cewek paling cantik tapi Dia
sangat menarik buatku. Dia bahkan ga Cuma baik sama aku tapi juga sama semua
orang. Temen deket, ga deket, cowok/cewek. Dan aku sekarang menyadari bahwa Dia
sangat penting buatku.”
“Kamu
tuh Cuma nyebutin apa yang kamu rasain bukan ciri-ciri orang nya yan. Tauk ah.”
“Kamu
masih belum tau siapa orangnya?”
“belom”
“Cewek
itu... kamu...” dengan tatapan malu dia memandangku. Tapi aku tak segampang itu
percaya dengan apa yang diucapkannya. Mungkin dia Cuma mau mengerjai aku. Lalu
aku pun tertawa.
“Kok
kamu ketawa sih?” ucapnya dengan wajah yang kesal.
“
Kamu itu jangan suka ngerjain orang, aku tau kok kamu cuman mau ngerjain aku..
iya kan?”
“apa?
Ngerjain kamu?”
“
Iya kan, udah deh ngaku aja, siapa aja yang udah kamu kerjain kayak gini?”
“Hey,
aku serius Nin.”, lau dia pun memegang tanganku. Dengan tatapan matanya yang
begitu indah. Dia meyakinkan ku bahwa yang diucapkannya adalah bersal dari
hati. Dan bukan bercanda.
“Nin,
aku serius. Aku suka sama kamu. Aku nggak ngerjain kamu. Aku dah jujur sama
kamu. Apa kamu ga denger ciri-ciri yang udah aku bilang. Itu semua tentang
kamu.Kamu penting buat aku.” Katanya pelan-pelan penuh perasaan.
Tak
tahu kenapa air mataku mengalir begitu saja. Aku tak percaya ini semua terjadi.
Hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku masih terdian memandangnya.
“Kok
kamu nangis sih, udah jangan nagis dong”. Iapun mengusap pipiku dan menghapus
air mataku.
“Ok
sekarang aku mau kamu jawab pertanyaanku, boleh nggak aku jadi seseorang yang
selalu deket sama kamu, kapan pun dan diman pun?”
Dengan
sedikit senyuman aku pun menjawab, “ boleh”
“Makasih,
Nin, I love you”
“Love
you too”
“Cieeeeee...”
tiba-tiba tementemenku datang. Aku bingung, bagaimana bisa mereka datang pada
saat yang sangat kebetulan.
“Nina,
tau nggak kita tuh sebenernya udah pada nyampek dari tadi, cuman kita emang
ngebiarin kamu berdua sama Rian.”
“Aaa..
kalian ternyata sekongkol ya?”
“Iya,
ini semua rencana nya kita biar kamu sama Rian bisa berduaan.”
“Makasih
ya gaess.., Love you all”
“Selamet
yah..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar